Bioremediasi Tambak


Bioremediasi dapat dikatakan sebagai proses yang menggunakan mikroorganisme, fungi, tanaman hijau atau enzyme yang digunakan untuk mengembalikan kondisi suatu lingkungan yang telah tercemar kepada kondisi semula (http://en.wikipedia.org/wiki/Bioremediation).

Proses bioremediasi ini dapat dilakukan secara bioaugmentasi yaitu penambahan atau introduksi satu jenis atau lebih mikroorganisma baik yang alami maupun yang sudah mengalami perbaikan sifat (improved/genetically engineered strains), dan biostimulasi yaitu suatu proses yang dilakukan melalu penambahan zat gizi tertentu yang dibutuhkan oleh mikroorganisma atau menstimulasi kondisi lingkungan sedemikian rupa (misalnya pemberian aerasi) agar mikroorganisma tumbuh dan beraktivitas lebih baik (Irianto, 2001).

Penggunaan sistem bioremedasi sendiri disebabkan berbagai keuntungan yang bisa diperolah seperti relative aman karena menggunakan organisme. Bioremediasi sendiri bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air).

Ada 4 teknik dasar yang biasa digunakan dalam bioremediasi :

  1. stimulasi aktivitas mikroorganisme asli (di lokasi tercemar) dengan penambahan nutrien, pengaturan kondisi redoks, optimasi pH, dsb
  2. inokulasi (penanaman) mikroorganisme di lokasi tercemar, yaitu mikroorganisme yang memiliki kemampuan biotransformasi khusus
  3. penerapan immobilized enzymes
  4. penggunaan tanaman (phytoremediation) untuk menghilangkan atau mengubah pencemar. (http://Pencemaran Lingkungan online.com//)

Penggunaan Sistem Bioremediasi Dalam Usaha Perbaikan Kondisi Sedimen Tambak Udang

Bioremediasi merupakan sistem pengembalian kondisi lingkungan yang sudah tercemar kembali pada kondisi awal. Teknik bioremediasi pada tambak udang secara prinsip menambahkan mikroorganisme tertentu untuk menormalkan kembali tambak udang yang telah rusak akibat tingginya senyawa metabolitoksik terutama amoniak dan nitrit. Tidak cuma itu, metoda ini juga mampu menghilangkan H2S yang bersifat toksik/berracun pada sedimen tambak serta menekan jumlah bakteri vibrio yang dapat menimbulkan penyakit pada udang windu (Rusmana dan Widianto, 2006).

Dalam kasus pertambakan udang, sedimen merupakan “lingkungan” yang akan diperbaiki. Dalam usaha melakukan remediasi pada lingkungan tambak, perlu dilakukan analisa menyeluruh akan kandungan berbagai bahan organic dan an organic yang terdapat pada lingkungan tambak (Subagyo, 2008). Analisa ini diperlukan untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap lingkungan tambak tersebut, termasuk dalam penggunaan mikroorgansime yang mungkin akan digunakan. Kegiatan analisa ini merupakan langkah kerja pertama dalam usaha bioremediasi tambak. Analisa ini meliputi kegiatan survey pendahuluan terhadap sedimen.

Survey pendahuluan ini meliputi berbagai hal sebagai berikut:

Kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah dikenal dengan remediasi. Sebelum melakukan remediasi, hal yang perlu diketahui:

  • Jenis pencemar (organic atau anorganik), terdegradasi/tidak, berbahaya/tidak,
  • Berapa banyak zat pencemar yang telah mencemari tanah tersebut,
  • Perbandingan karbon (C), nitrogen (N), dan Fosfat (P),
  • Jenis tanah,
  • Kondisi tanah (basah, kering),
  • Telah berapa lama zat pencemar terendapkan di lokasi tersebut,
  • Kondisi pencemaran (sangat penting untuk dibersihkan segera/bisa ditunda).

Langkah selanjutnya adalah dengan menentukan jenis mikroorganisme yang bisa digunakan dalam melakukan remediasi terhadap sedimen.fungi, tanaman hijau atau enzyme. Salah satu yang sering digunakan adalah bakteri. Bakteri digunakan dalam banyak sistem bioremediasi karena sifatnya yang fagositosis, ukuran kecil, tidak berbentuk hifa (Subagyo,2008). Dalam aplikasi remediasi sedimen tambak digunakan jenis bakteri. Berbagai jenis bakteri yang dapat digunakan adalah bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi, bakteri fermentatif maupun bakteri fotosintetik anoksigenik.

Penelitian untuk melakukan langkah kedua ini telah dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiota dan Laboratorium Hidrodinamika Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Cibinong-Bogor. Percobaan diarahkan untuk mencapai keseimbangan lingkungan tambak dengan memanfaatkan bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi, bakteri fermentatif maupun bakteri fotosintetik anoksigenik. Mikroorganisme tersebut nantinya diharapkan dapat mengeluarkan senyawa-senyawa toksik dan melepaskannya berupa gas nitrogen dan CO2 ke atmosfer.

Langkah awal dalam penentuan jenis bakteri ini adalah dengan mencari bakteri yang cocok untuk dpaat melakukan remedisi terhadap sedimen tambak. Dari berbagai jenis bakteri yang didapatkan, selanjutnya dapat ditentukan suatu konsorsia bakteri. Konsorsia bakteri ini y nag akan diaplikasikan secara langsung ke lingkungan tambak. Penelitian dilakukan di daerah pertambakan di Lampung, Sulawesi Tenggara, wilayah Pantura serta Pantai Selatan Jawa. Bakteri yang dibutuhkan dalam remediasi sedimen tambak adalah bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi, bakteri fotosintetik anoksigenik, bakteri fermentatif dan bakteri heterotrofik yang dapat meningkatkan kualitas air dan sedimemen (Rusmana dan Widianto, 2006).

Aplikasi Sistem Bioremediasi Pada Tambak Udang

Sistem kerja dalam penggunaan bakteri dalam usaha budidaya udang dalam tambak adalah dengan penggunaan konsorsia bakteri remediasi. Konsorsia ini terdiri dari berbagai jenis bakteri yang telah ditemukan yaitu bakteri heterotrofik, bakteri nitrifikasi dan denitrifikasi, serta bakteri fotosintetik anoksigenik. Rasio bakteri yang digunakan adalah Bakteri nitrifikasi : bakteri denitrifikasi : bakteri fotosintetik anoksigenik : bakteri heterotrofik (bakteri fermentatif – DA) = 2 : 1 : 1 : 2.

  • Bakteri denitrifikasi dan nitrifikasi untuk mengendalikan nitrogen, amoniak, nitrat, dan nitrit yang ada di tambak.
  • Bakteri fotosintetik anoksigenik untuk mengatur hidrogen sulfida (H2S) dan sebagai pakan tambahan karena banyak mengandung karotenoid.
  • Bakteri heteroptrofik untuk mengontrol karbon dan senyawa organik dari sisa pakan.
  • Bakteri fermentasi untuk menghilangkan senyawa organik dengan cepat karena punya sifat proteolitik.

Konsorsium bakteri ini dimasukkan dalam tambak dua minggu sebelum bibit ditebar, selanjutnya setiap 10 hari sampai masa panen. Tiap satu hektare tambak memerlukan 120 liter tiap 10 hari selama dua bulan pertama. Selanjutnya sampai bulan keempat, dinaikkan dua kali lipat dengan konsentrasi yang sama. Hasil akhir menunjukkan tingkat kelangsungan hidup udang sekitar 70 persen dengan padat penebaran 30 ekor per m2 dan ukuran panen 35-45 ekor per kg.

Berdasarkan hasil analisa kualitas air tambak menunjukan bakteri bioremediasi mampu beradaptasi dan dapat bekerja dengan baik menjaga kondisi kualitas air tambak agar berada dibawah batas ambang dan mampu menguraikan senyawa toksik (Rusmana dan Widianto, 2006).

Iklan

Satu pemikiran pada “Bioremediasi Tambak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s